Sabtu, 16 Juni 2012

Greece V Russia : UEFA Euro 2012 Match Preview

Russia look to seal last eight spot against Greeks
Russia will look to cement their place in the last eight at on Saturday when a draw will suffice in their game with Greece.
They will hope their fans are on much-improved behaviour as any transgressions could result in their suspended six points deduction from the next Euro qualifiers being imposed by UEFA.
Russia top the group on four points with Greece needing to beat them to have any chance of progressing while Czech Republic, on three, meet co-hosts Poland, who have two points, also on Saturday.
In the wake of their 4-1 demolition of Czech Republic in the opening game last Friday, Russia had been expected to storm into the last eight when they faced co-hosts Poland in Warsaw's National Stadium on Tuesday.
But the Poles forced a 1-1 draw, meaning that while the odds remain stacked in favour of Dutch veteran Dick Advocaat's men, they know they cannot afford to be complacent.
"Of course a draw with Greece will also put us into the knockout stage but we should win and stay in Warsaw. Any other result will be unacceptable," said Zenit Saint Petersburg midfielder Roman Shirokov.
That was echoed by goalkeeper Vyacheslav Malafeev, who like Shirokov is one of seven Zenit players who started both games.
"We also need to forget that a draw will also put us into the knockout stage and score. Once, twice... as much as we can," Malafeev said.
Advocaat, who took over from compatriot Guus Hiddink in May 2010, has won plaudits for building a side with attractive, free-flowing play and blooding impressive young players such as CSKA Moscow's Alan Dzagoev.
The 21-year-old has scored three goals so far at Euro 2012, getting a double against the Czechs and one in the Polish match.
For Advocaat, success at Euro 2012 would be a fine parting gift before he steps down after the tournament to return to club management in his homeland at PSV Eindhoven.
Hanging over his successor is the spectre of a six-point deduction from Russia's Euro 2016 qualifying campaign in the event of further serious crowd trouble involving its fans.
European football's governing body UEFA issued the warning with a 120,000-euro ($150,000, 96,000-pound) fine, after Russian fans lit and threw fireworks during their side's win over the Czechs.
While Russia look set to cruise into the knock-out stages, the picture is very different for Greece, who lie at the foot of Group A.
The surprise Euro 2004 champions will be looking for an inspired performance similar to the one that saw them battle back from being a goal down and a man down to draw 1-1 with Poland in their opening game - though this time they have to win.
The Greeks, hoping to bring some cheer to a homeland locked in an economic and political crisis, come into the Russia match on the back of a 2-1 defeat to the Czechs on Tuesday.
"There is a chance and we have to focus and believe that it is possible," their
Portuguese coach Fernando Santos said.

Mendengkur Bisa Membunuh Diam-diam

shutterstock

KOMPAS.com - Waktu tidur yang disertai dengan dengkuran kerap dianggap sebagai tidur yang nyenyak. Padahal, orang yang sering mendengkur saat tidur apalagi jika kerap berhenti napas berisiko tinggi menderita stroke dan penyakit jantung.

Ketika kita tidur, otot di langit-langit mulut, lidah, dan tenggorokan berada dalam kondisi rileks sehingga sering terjadi sumbatan jalan napas. Kondisi tersebut menyebabkan daerah di sekitar sumbatan bergetar, sehingga timbul suara yang kita kenal dengan dengkuran atau ngorok.

Mendengkur sendiri merupakan gejala utama obstructive sleep apnea/OSA.  Menurut dr.Rimawati Tedjakusuma, spesialis saraf dari Rumah Sakit Medistra Jakarta , OSA adalah henti napas saat tidur yang terjadi berulang-ulang karena sumbatan jalan napas atas yang diikuti dengan menurunnya kadar oksigen darah.

"Pada orang yang menderita OSA berat, henti napasnya bisa terjadi lebih dari 30 kali dalam satu jam. Malah, ada pasien saya yang mengalami henti napas sampai 150 kali per jam," katanya dalam acara seminar dalam rangka World Sleep Day di RS Medistra Jakarta, Kamis (15/3/12).

Berbagai penelitian menunjukkan kaitan antara OSA dengan penyakit kronis seperti gangguan irama jantung, stroke, hipertensi, dan diabetes. Penelitian yang dilakukan Rimawati di RS Medistra pada tahun 2011 menunjukkan hampir 41 persen pasien OSA menderita hipertensi.

"Saat henti napas, otak akan memerintahkan supaya tubuh mendapatkan oksigen sehingga kita terbangun. Kondisi ini menyebabkan tekanan darah meningkat sehingga lama-lama dinding pembuluh darah rusak. Hal ini akan memicu peradangan. Pembuluh darah yang rusak juga akan menarik kolesterol sehingga terjadi penyempitan pembuluh darah," papar dokter yang mendalami masalah tidur ini.

Henti napas yang terjadi berkali-kali dalam satu malam juga akan menggangu tidur sehingga esok harinya kita akan terbangun dalam kondisi lemas, sakit kepala, konsentrasi menurun, serta mengantuk sepanjang hari.

"OSA juga meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas dan juga ditempat kerja. Selain itu penderitanya juga berisiko menderita depresi dan kecemasan. Mereka juga berisiko dua kali lipat terkena stroke," katanya.

Untuk itu, segera periksakan diri jika Anda mengalami gejala-gejala tersebut di atas. "Mendengkur sekali-kali mungkin normal. Tetapi jika setiap kali tidur selalu mendengkur waspadai OSA," katanya.

Kendati lebih sering dialami oleh orang dewasa, namun bayi dan anak-anak juga bisa menderita OSA. "Biasanya karena pembesaran amandel, obesitas, atau kelainan bentuk wajah dan lingkar leher," ujarnya.

Agar terhindar dari komplikasi akibat OSA, segera periksakan diri ke dokter untuk mengidentifikasi penyakit dan mengatasinya. Pada OSA yang ringan, biasanya dokter akan menganjurkan penurunan berat badan atau mengubah posisi tidur.

Sementara itu pada OSA yang berat terkadang diperlukan tindakan pembedahan. Penggunaan alat bantu untuk membuka jalan napas seperti CPAD (continous positive airway pressure) juga dinilai membantu mencegah perburukan akibat OSA. Alat ini akan memberikan aliran udara bertekanan lembut melalui hidung atau mulut menggunakan masker. Tekanan udara akan mencegah menyempitnya dan menutupnya saluran napas sehingga pasien bisa bernapas leluasa selama tidur.